Jumat, 05 Agustus 2011

Makalah Pelestarian Bahan Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Bahan pustaka merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah sistem perpustakaan, selain ruangan, gedung, peralatan, tenaga dan anggaran. Unsur-unsur tesebut satu sama lain saling mendukung untuk terselenggaranya layanan perpustakaan yang baik.

Namun sampai sampai saat ini menurut fakta yang ada, bahan pustaka yang merupakan unsur penting perpustakaan kurang diperhatikan, banyak di berbagai perpustakaan yang ada saat ini bahan pustaka yang ada tidak terawat dan rusak, ironisnya banyak terdapat kasus daftar pustaka yang hilang dan pelestariannya juga kurang dikembangkan. Pelestarian bahan pustaka tidak hanya menyangkut pelestarian dalam bidang fisik, tetapi juga pelestarian dalam bidang informasi yang terkandung di dalamnya. Maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka yang mahal, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan.
Tujuan pelestarian bahan pustaka dapat disimpulkan sebagai berikut, menyelamatkan nilai informasi dokumen, menyelamatkan fisik dokumen, mengatasi kendala kekurangan ruang, mempercepat perolehan informasi. Berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah manajemen, tenaga yang merawat bahan pustaka, laboratorium, dan dana.

B. Rumusan Masalah
1. Sejarah bahan pustaka?
2. Apa macam-macam perusak bahan pustaka?
3. Bagaimana cara mencegah kerusakan bahan pustaka?
4. Bagaimana cara perbaikan bahan pustaka?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah bahan pustaka dan jenis bahan pustaka
2. Agar mengetahui macam-macam perusak bahan pustaka
3. Untuk mengetahui cara mencegah kerusakan bahan pustaka
4. Untuk mengetahui cara perbaikan bahan pustaka









BAB II
PEMBAHASAN


A. Sejarah Bahan Pustaka
Bahan pustaka terdiri atas berbagai jenis dan bermacam sifat yang dimilikinya. Dari sejarahnya, manusia menggunakan berbagai medium untuk merekam hasil karya mereka. Bahan yang dipergunakan sesuai dengan pengetahuan manusia serta teknologi pada zamannya.
Bahan yang dikenal sebagai medium perekam hasil budaya manusia adalah: (1) tanah liat, (2) papyrus, (3) kulit kayu, (4) daun tal atau lontar, (5) kayu, (6) gading, (7) tulang, (8) batu, (9) logam (metal), (10) kulit binatang, (11) pergamen (parchmental) dan vellum, (12) leather (kulit), (13) kertas, (14) papan, (15) film, (16) pita magnetik, (17) disket, (18) video disk dan lain-lain. Semua bahan di atas bisa digolongkan sebagai bahan pustaka.
Pustakaan dewasa ini terbuat dari kertas. Sedangkan di masa mendatang mungkin isi sebuah perpustakaan berupa kumpulan disket, karena teknologi komputer terus berkembang pesat. Kertas bisa dibuat dari berbagai serat yaitu: serat binatang,serat bahan mineral, serat sintetis, serat keramik, serat tumbuh-tumbuhan. Kekuatan kertas tergantung dari kekuatan serat sebagai bahan dasarnya.
Bahan pustaka yang lain ialah bahan non-buku yang juga disebut bahan audiovisual, media teknologi, alat peraga dan sebagainya. Materi bahan non-buku begitu bervariasi. Karena itu dalam memelihara bahan non-buku diperlukan berbagai keahlian dan keterampilan khusus. Kita harus memahami apa yang disebut dengan hardware atau perangkat keras dan software atau perangkat lunak. Harus kita fahami cara meng-operasikan peralatan, cara memperbaiki kalau ada kerusakan, dan bisa memeliharanya sehingga bahan-bahan tersebut awet dan lestari.


B. Macam-Macam Perusak Bahan Pustaka
Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka. Karena itu, setiap pustakawan hendaknya mengetahui cara menyusun kembali dan mengangkut buku untuk dikembalikan ke rak, cara mengontrol buku yang dikembalikan oleh pembaca apakah pembaca merusakkan buku atau tidak. Mencegah masuknya binatang mengerat dan serangga ke perpustakaan juga merupakan hal penting yang harus diketahui seorang pustakawan. Begitu pula cara menghindari debu masuk ke perpustakawan cara, mengontrol suhu dan kelembaban ruangan.
Kerusakan bahan pustaka secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1.      Faktor biologi, misal serangga, binatang, pengerat, jamur.
2.      Faktor fisika, misal cahaya, udara/debu, suhu, kelembaban.
3.      Faktor kimia, misalnya zat-zat kimia, keasaman, oksidasi.
4.      Faktor-faktor lain, misal bencana alam, api, man
C. Cara Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka
Setiap pustakawan harus dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan pustaka. Kerusakan itu dapat dicegah jika kita mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.
Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak dan akar “loro setu” di antara buku-buku agar serangga segan menghampirinya, ini merupakan cara untuk dapat mencegah kerusakan bahan pustaka. Yang paling baik ialah menyediakan ruangan khusus untuk perbaikan bahan pustaka dengan petugasnya sekaligus, sehingga kalau diperlukan perbaikan bahan pustaka, dapat dikerjakan dengan cepat. Jangan menunggu kerusakan menjadi lebih berat. Tentu saja pencegahan yang berhasil akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perpustakaan.
Cara mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur,oleh banjir,oleh api, dan oleh debu. Dalam mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur disarankan agar kelembaban udara ruangan harus dijaga tidak lebih dari 60% RH.
Kapur sirih, arang, silicagel atau mesin penyerap uap air yang bernama DEHUMIDIFIER dapat digunakan untuk menyerap uap air. Pemeriksaan kelembaban udara ruangan dan pembubuhan obat anti jamur pada buku merupakan salah satu cara mencegah kerusakan bahan pustaka.
Pencegahan kerusakan bahan pustaka karena banjir dapat dilakukan dengan cara membersihkan lumpur dan pengeringan bahan pustaka. Hendaknya bahaya banjir bisa diantisipasi. Kerusakan oleh api dapat dicegah dengan menghindari kebakaran di antaranya dengan memeriksa kondisi kabel listrik secara rutin, penyediaan alat pemadam kebakaran, serta adanya aturan yang ketat misalnya dilarang merokok.
Cepatlah bertindak, jagalah selalu kebersihan dan kerapihan sehingga mengundang pembaca untuk memakai perpustakaan dengan baik, dan bagi pustakawan sendiri akan semakin senang bekerja dengan baik.

D. Cara Perbaikan Bahan Pustaka
Sebagai pustakawan harus dapat memperbaiki dokumen yang rusak, baik itu kerusakan kecil maupun kerusakan berat. Perpustakaan sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melakukan pekerjaan ini.
Cara-cara untuk memperbaiki bahan pustaka yang rusak yaitu dengan, antara lain:

1.      Menambal kertas
2.      Memutihkan kertas
3.      Mengganti halaman yang robek
4.      Mengencangkan benang jilidan yang kendur
5.      Memperbaiki punggung buku, engsel atau sampul yang rusak
Menambal buku berlubang oleh larva kutu buku atau sebab lainnya, menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total, menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan yang harus dikuasai oleh seorang restaurator. Berbagai macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian pelestarian ini. Peralatan yang diperlukan, serta bahan dan cara mengerjakan perbaikan ini harus dipelajari benar-benar oleh seorang pustakawan atau teknisi bagian pelestarian.
Agar bahan pustaka dapat terus digunakan maka perlu diadakannya pelestarian bahan pustaka oleh seorang pustakawan. Pelestarian tersebut dimaksudkan agar bahan pustaka dapat terus diganakan dan selalu bermanfaat oleh para pembaca. Contoh-contoh pelestarian yang dapat dilakukan, antara lain:
1.      Fumigasi
Fumigasi ialah salah satu cara melestarikan bahan pustaka dengan cara mengasapi bahan pustaka agar jamur tidak tumbuh, binatang mati, dan perusak bahan pustaka lainnya terbunuh. Kata fumigasi berasal dari kata Latin fumigare yang berarti pengasapan. Fumigasi dilaksanakan dengan dengan pembakaran atau penguapan zat kimia yang mengandung racun. Uap atau asap zat kimia tersebut dapat membunuh serangga, jamur, atau kuman-kuman yang menyerang buku. Dokumen menjadi steril dengan menggunakan bahan-bahan kimia (fumigant). Dengan demikian kerusakan bahan pustaka lebih janjut dapat dicegah atau dihindari. Kuman, jamur, dan serangga perusak bahan pustaka lain, terbunuh. Bau busuk yang timbul dari bahan pustaka yang rusak akan hilang karena steril. Begitu pula bibit penyakit yang mungkin timbul karena berbagai perusak bahan pustaka bisa dimusnahkan.
Fumigasi dapat dilaksanakan dengan menggunakan bahan kimia, misalnya : carbon disulfit (CS2), carbon tetra chloride (CCL4), methyl bromide (CH33Br), thymol crystal, dan naptaline. Penggunaan masing-masing bahan kimia ini disesuaikan dengan luas ruangan yang dimiliki dan jumlah bahan yang akan difumigasi. Yang perlu dipersiapkan sebelum diadakan fumigasi ialah, ruangan, peralatan, dan bahan yang akan di fumigasi. Persiapan ini ialah dengan membuka bahan pustaka atau menengkurapkan bahan pustaka sedemikian rupa sehingga setiap lembar kertas dapat terkena gas pembasmi hama secara merata.
Bahan-bahan kimia yang akan digunkan harus sesuai dengan jenis serta jumlah bahan yang akan dip roses. Beberapa jenis bahan kimia yang digunakan untuk proses fumigasi adalah hydroclanide, carbon disulphide, methyl bromideethylene dibromide, ethylene oxside, sulphur fluoride, campuran ethylene oxide carbon dioxside, kristal parade clorobenzene, kristal thymol, dan kilopetra.
Tidak satupun bahan kimia dapat dipakai tanpa alat pengaman, atau tanpa supervise oleh orang yang berpengalaman atau berpendidikan dalam bidang ini. Alat (perlengkapan) yang digunakan oleh petugas fumigasi antara lain jas laboratorium yang dapat mekindungi  seluruh badan; sarung tangan. dan masker gas.
Semua bahan pustaka dapat difumigasi, termasuk lontar maupun bahan audiovisual yang dianggap perlu. Beberapa jenis buku, misalnya yang bersampul kulit, menurut Hickin (1985:159) tidak boleh difumigasi dengan bahan kimia jenis Methyl bromide ataupun Ethylene Oxide. Hal ini disebabkan beberapa jenis kulit menjadi lapuk oleh bahan kimia tersebut. Disamping itu Timothy Walsh pernah menasihatkan bahwa kalau menggunakan Ethylene Oxcide harus sangat hati-hati, sebab fumigant ini dapat menyebabkan penyakit leukemia.
Penggunaan fumigant harus tepat untuk itu perlu mendapatkan nasihat atau petunjuk pada setiap tingkat penggunaannya. Bahan yang terlalu tua disarankan tidak difumigasi, sebab ada cara lain membunuh serangga didalamnya yaitu, dengan mendidinginkan bahan tersebut mencapai 37% C. Buku yang tua dapat ditempeli oleh banyak zat kimia, sedangkan zat tersebut sangat berbahaya bagi manusia. Jadi berbahaya bagi petugas perpustakaan maupun para pembaca perpustakaan.
Insektisida adalah cara yang baik untk menghilangkan serangga di perpustakaan, tetapi memiliki efek samping yang berbahaya terhadap lingkungan terutama kalau kurang kontrol. Karena itu ZP Dvopiashina pernah mengusulkan untuk menggunakan pheromenes, suatu penemuan baru dari sistem perlindungan berdasarkan produksi dan penggunaan subtansi biologi aktif.
Membunuh serangga atau penyakit buku dengan cara pendinginan dimulai oleh Perpustakaan Universitas Yale, Amerika Serikat Tahun 1977. Cara ini kemudian dinilai lebih aman, tidak memiliki efek samping seperti pada fumigasi, yang mengandung residu fumigant yang masih menempel di bahan pustaka. Buku dimasukkan de dalam kantong plastic, dimasukkan ke dalam ruangan berukuran 3 m x 3m x 1 m. Lima ratus buku bisa dimasukkan sekaligus dan didinginkan 37° C selama  tiga hari. Sesudah itu buku dibersihkan dan ditempelkan ke rak semula dengan temperatus 18° C dan kelembaban 50% RH. Pekerjaan ini dapat diulang dengan mudah secara rutin, tanpa memikirkan banyak risiko yang mungkin ditimbulkan.
2.      Menghilangkan Keasaman pada Kertas (Deasidifikasi)
Deasidifikasi (deacidification), adalah kegiatan pelestarian bahan pustaka dengan cara menghentikan proses keasaman yang terdapat pada kertas.
Dalam proses pembuatan kertas, ada campuran zat kimia yang apabila zat tersebut terkena udara luar, membuat kertas menjadi asam. Proses ini berlangsung terus walau kertas sudah menjadi bentuk buku atau yang lain. Dengan persenyawaan udara dari luar, apalagi dengan udara yang kotor oleh debu, gas, kenalpot mobil, atau limbah industri, asam tersebut dapat merusak kertas. Usaha menghentikan proses tersebut dinamakan deasidifikasi (deacidification).
Sebelum dilakukan pekerjaan tersebut, perlu diadakan uji kesamaan terhadap kertas dengan menggunakan pH meter, kertas pH atau spidol pH yang dapat kita beli di apotek atau took kimia. pH meter 7020 adalah alat pengukur keasaman kertas yang menggunakan bejana yang berisi cairan. Kertas yang akan diukur tingkat asamnya diremas, dan dimasukkan ke dalam tempat yang telah disediakan yaitu sebuah tabung yang diisi dengan cairan yang dapat menentukan tingkat keasaman kertas. Jarum penunjuk menyatakan angka 7 atau di atas angka 7. Kertas yang baik memiliki pH 7, sedangkan kertas yang asam  memiliki pH kurang dari angka 7. Jika kertas tidak asam, jarum akan bergeser ke kanan, yang menunjukkan angka 7, 8 sampai dengan 14.
Kertas yang akan diukur keasamannya harus bersih, bukan yang sudah tertulis dengan tinta, sebab tinta bisa meningkatkan keasaman. Jadi hasilnya menjadi bias jika menggunakan kertas yang sudah ditulisi atau sudah kotor. pH meter ini baik digunakan untuk mengetes kertas bukan buku. Sebab kalau sudah menjadi buku tentu saying kalau harus diremas dan direndam ke dalam cairan.
Untuk mengukur tingkat keasaman kertas pada buku dapat digunakan pH yang merupakan kertas yang ujungnya ditempeli bahan yang peka terhadap keasaman dari berbagai tingkatan. Dengan demikian, kita bisa menyamakan warna kertas pH tersebut, sesuai dengan angka yang tertulis disana. Caranya ialah dengan membasahi bagian buku yang bersih dengan setetes air bersih. Tentu diusahakan air tersebut tidak akan merusak bagian buku yang lain. Kertas pH tersebut kita masukkan ke dalam air yang kita teteskan di kertas atau buku tadi. Tunggu kira-kira dua menit. Kita akan melihat perubahan warna pada kertas pH tersebut. Dengan cara menyesuaikan warna dengan angka yang ada pada kertas pH tersebut, kita dapat mengetahui tingkat keasaman pada kertas buku. Setelah selesai pengukuran, kita harus bersihkan tetesan air tadi dengan lap kering halus, agar buku tidak rusak.
Cara yang ketiga ialah dengan menggunakan spidol pH. Goreskan spidol tersebut pada kertas di buku, kemudian kita lihat perubahan warnanya. Selanjutnya kita ukur dengan ukuran warna yang menunjukkan tingkat keasamannya. Cara ini tentunya kurang baik, sebab akan meninggalkan bekas warna goresan pada buku. Setelah jelas bahwa kertas memiliki tingkat keasaman yang tinggi, maka kita melanjutkan pekerjaan deacification yang dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu : Cara kering dan cara basah.

3.      Laminasi
Laminasi artinya melapisi bahan pustaka dengan kertas khusus, agar bahan pustaka menjadi lebih awet. Proses keasaman yang terjadi pada kertas atau bahan pustaka dapat dihentikan oleh pelapis bahan pustaka yang terdiri dari film oplas, kertas cromtom, atau kertas pelapis lainnya. Pelapis bahan pustaka ini menahan polusi atau debu yang menempel di bahan pustaka sehingga tidak beroksidasi dengan polutan. Proses laminasi biasanya digunakan untuk kertas-kertas yang sudah tidak dapat diperbaiki dengan cara lain misalnya seperti menambal, menjilid, menyambung dan sebagainya. Biasanya kertas atau bahan pustaka yang dilaminasi adalah yang sudah tua dan berwarna kuning cokelat.
Setelah kita tetapkan bahwa sebuah bahan pustaka perlu diawetkan karena memiliki nilai sejarah atau nilai budaya yang lain, maka bahan pustaka tersebut kita laminasi. Dokumen yang telah dihilangkan atau dikurangi tingkat keasamannya di atas, kita awetkan dengan cara laminasi.
Ada dua cara laminasi, yaitu dengan mesin dan secara manual.

1.   Laminasi Mesin
Laminasi dengan mesin juga dibagi menjadi dua, yaitu : cara dingin, dan cara panas.
a.      Laminasi Mesin dengan cara dingin
Laminasi mesin dengan cara dingin ialah melapisi kedua sisi kertas dengan bahan yang disebut film oplas. Film ini diimpor dari Jerman. Film oplas ini mengandung lem, dan dapat dibuka kembali dengan cara membasahinya dengan air.
Dua buah rol film oplas kita pasang pada sebuah mesin penggerak, di atas dan di bawah bahan pustaka. Petugas laminasi memasukkan kertas yang akan dilaminasi di antara kedua film oplas tersebut seperti kalau kita memasukkan kertas yang akan dikirim melalui facsimile, atau mesin pembuat transparansi film untuk OHP. Dua rol folm oplas itu bertemu dengan permukaan kertas yang akan dilaminasi. Seolah kedua film tersebut menelan bahan pustaka penting tadi dan memuntahkannya di bagian belakang mesin yang bergandengan antara satu bahan pustaka dengan lainnya. Kemudian dipotong satu per satu dan dijilid atau disusun menurut nomor berurutan sesuai dengan susunan aslinya.
Sebagai petugas harus rajin membersihkan dan memelihara mesin, serta memahami betul cara bekerjanya. Teknik memasukkan bahan pustaka di antara dua film oplas harus diperhatikan agar tidak terjadi adanya gelembung udara antara bahan pustaka dan pelapis. Mengingat harganya yang mahal, harus dipertimbangkan masak-masak apakah bahan pustaka laik untuk dilaminasi. Kalau  tak mungkin memiliki sendiri alat laminasi itu, perpustakaan dapat mengadakan kerja sama. Atau diserahkan kepada perusahaan komersial.
Di Indonesia yang memiliki peralatan ini adalah Arsip Nasional Republik Indonesia, Jl. Ampera Raya No. 12 Jakarta Selatan.
b.      Laminasi mesin dengan cara panas
      Laminasi dengan cara panas menggunakan kertas cromton untuk melapisi kedua sisi bahan pustaka. Kertas dipanaskan antara 70-90°C, agar kertas cromton tersebut dapat menempel pada bahan pustaka. Cara kerjanya juga sama seperti cara dingin, hanya kalau pelapisnya mau dilepaskan dari bahan pustaka, kita bisa menggunakan  acean, dan bahan pustaka aslinya bisa kita dapatkan kembali.
Dalam melaminiasi bahan pustaka kita tidak boleh sembarangan, harus dipikirkan bagaimana caranya agar bahan pustaka tidak menjadi rusak oleh bahan pelapis. Pada laminasi “paten” kertas pelapis tidak bisa dibuang tanpa meninggalkan bekas-bekas kerusakan pada bahan pustaka.

2.      Laminasi dengan Manual
Cara ini dikerjakan dengan menggunakan kertas laminasi yang kita impor khusus dari luar negeri. Bahan ini belum diproduksi di Indonesia.
Cara penggunaannya kita letakkan kertas laminasi di meja yang diberikan alas. Kemudian bahan pustaka ditempatkan di atasnya, sesudah itu diletakkan kertas laminasi lagi. Jadi seperti membuat sandwich. Kemudian oleskan aceton yang bersedia di cawan, dengan kuas. Hati-hati jangan sampai ada gelembung udara di antara kertas pelapis dan bahan pustaka. Jangan terlalu menekan kertas, sebab bisa merobek kertas laminasi dan bahan-bahan pustakanya. Kemudian dikeringkan. Setelah kering maka pinggirnya digunting dengan rapi. Dokumen akan menjadi lebih awet dan udara luar tidak akan mengganggu zat kimia yang terdapat pada kertas, sehingga proses keasaman terhenti.
Biaya untuk laminasi cukup mahal. Satu halaman folio bisa mencapai Rp. 1.000,00 karena itu kalau memang tidak sangat penting, tidak perlu diadakan laminasi, tetapi cukup dengan cara encapsulasi yang bisa menggunakan plastik biasa dan double sided tape. Bahan yang baik ialah plastik estralon.

3.      Laminasi Lontar
Untuk menjaga kelangsungan hidup lontar, lontar perlu dilaminasi. Pelaksanaannya lama seperti yang dilakukan pada bahan pustaka jenis kertas.
Agar dapat bertahan lama, lontar harus diberikan bahan-bahan penahan temperatur tinggi. Untuk menghindari pengaruh iklim, lontar dapat dilapisi dengan minyak sereh. Cara itu dilakukan agar lontar tidak kaku dan terhindar dari gangguan serangga. Untuk mencegah pengaruh kelembaban, setiap daun lontar perlu dilapisi dengan acetone dan ethanol. Campuran kimiawi itu dapat digunakan untuk membersihkan bakteri-bakteri yang terdapat pada daun lontar. Fungsi lainnya dari campuran kimiawi itu ialah pemberi daya pelumas terhadap daun lontar.


4.      ENKAPSULASI
Enkapsulasi adalah salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan yang bersifat fisik, misalnya rapuh karena umur , pengaruh asam, karena dimakan serangga, kesalahan penyimpanan, dan sebagainya.
Pada umumnya kertas yang akan dienkapsulasi berupa kertas lembaran seperti naskah kuno, peta, poster, dan sebagainya yang umumnya sudah rapuh. Pada enkapsulasi setiap lembar kertas diapit dengan cara menempatkannya di antara dua lembar plastic yang transparan. Jadi tulisannya tetap dapat dibaca dari luar. Pinggiran plastic tersebut, ditempeli lem dari double sided tape tadi, sehingga bahan pustaka tidak terlepas.
Enkapsulasi mirip menempatkan bahan pustaka pada amplop yang terbuat dari plastik, tetapi dalam enkapsulasi tidak ada udara di dalamnya seperti pada amplop.
Perbedaan antara laminasi dan enkapsulasi ialah bahwa pada laminasi, bahan pustaka menempel dengan pembungkusnya, sedangkan pada enkapsulasi bahan pustaka tidak menempel, sehingga kalau diperlukan, bahan pustaka bisa diambil dengan utuh, dengan cara menggunting bagian tepi plastic pelindungnya. Ijazah atau bahan pustaka penting lainnya lebih baik di enkapsulasi daripada dilaminasi. Dokumen tetap terlindung, awet, dan tidak rusak. Yang penting harus diperhatikan dalam pelaksanaan enkapsulasi adalah bahwa kertas harus bersih, kering, dan bebas asam (sudah dideasidifikasi).








BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Dari sejarahnya, manusia menggunakan berbagai medium untuk merekam hasil karya mereka. Bahan yang dipergunakan sesuai dengan pengetahuan manusia serta teknologi pada zamannya. Bahan yang dikenal sebagai medium perekam hasil budaya manusia adalah: (1) tanah liat, (2) papyrus, (3) kulit kayu, (4) daun tal atau lontar, (5) kayu, (6) gading, (7) tulang, (8) batu, (9) logam (metal), (10) kulit binatang, (11) pergamen (parchmental) dan vellum, (12) leather (kulit), (13) kertas, (14) papan, (15) film, (16) pita magnetik, (17) disket, (18) video disk dan lain-lain. Semua bahan di atas bisa digolongkan sebagai bahan pustaka.
2. Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka.
3. Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak merupakan cara untuk dapat mencegah kerusakan bahan pustaka.
4. Menambah buku berlubang oleh larva kutu buku atau sebab lainnya, menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total, menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan yang harus dikuasai oleh seorang restaurator. Berbagai macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian pelestarian ini. Peralatan yang diperlukan, serta bahan dan cara mengerjakan perbaikan ini harus dipelajari benar-benar oleh seorang pustakawan atau teknisi bagian pelestarian.

B. Saran
Setelah kita mengetahui semua tenyang bahan pustaka, diharapkan pembaca dapat mengerti sejarah bahan pustaka, mengerti penyebab kerusakan bahan pustakan, dan cara perbaikan bahan pustaka.
Penulis mengharapkan setelah membaca makalah ini pembaca benar-benar paham betapa pentngnya bahan pustaka agar selalu dirawat dan dilestarikan agar bahan pustaka tetap berguna dan bermanfaat sampai kapan pun.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar